Pasangan Sandiwara

Kehidupan adalah sandiwara di mana manusia berjuang untuk dapat menjalani peranan di berbagai lingkungan dengan baik. Menariknya, beberapa orang justru memilih menjadi pemeran atas nama seni. Apakah dengan mendalami seni peran akan memudahkan seseorang memahami peran-perannya yang asli dalam kehidupan masing-masing? Kenyataannya, yang sering dikenal dari seorang aktor ataupun aktris adalah sisi dirinya saat memainkan peran yang tetap saja bukan dirinya. Mungkin itulah mengapa terkadang disebutkan bahwa bermain peran adalah pekerjaan yang sepi, ketika hanya sedikit orang yang benar-benar mengenal diri mereka, kalau bukan hanya diri mereka sendiri.

Lelaki itu, mungkin seperti kebanyakan aktor lainnya, mengawali karir sebagai aktor karena kecintaannya pada seni peran. Sesederhana karena ada kepuasan ketika dapat ‘menghidupkan’ kisah yang tadinya hanya ada di atas kertas. Baginya, memerankan sesosok orang lain memberikannya pengalaman yang memperkaya hidupnya saat ia merasakan kehidupan yang berbeda dibanding yang dimilikinya. Ia rasa hal itu jarang dirasakan oleh kebanyakan orang lain, dan ia termasuk sedikit orang yang beruntung. Ketenaran dan kekayaan kemudian mengikutinya, dan pelan-pelan seiring perkembangan karirnya, bukankah kehidupannya sendiri akan lebih mudah dijalani berkat ketenaran dan kekayaannya itu?

Lalu datanglah bagian sandiwara ini, ketika ia tidak hanya diharapkan dapat memerankan seorang kekasih untuk peran dalam naskah, tapi juga diharapkan dapat memenuhi perannya sebagai lelaki yang berhasil menjalani hubungan sesungguhnya di kehidupan nyata. Kehidupan yang lebih fana dan menuntut keberlangsungan menunggunya untuk melanjutkan kisah yang tidak terlebih dulu tertulis rapi dalam skenario yang bisa dengan mudah dipelajari. Di bagian inilah ia bergantian menjadi penonton kehidupan kebanyakan orang, yang melanjutkan hidup dengan membentuk keluarga karena perasaan cinta yang nyata alih-alih dipandu oleh skenario yang ditulis orang lain. Lucunya, di bagian ini pula orang-orang yang tidak mengenalnya tapi mengenal kepopulerannya seperti dengan tanpa sadar berusaha menggerakkannya layaknya boneka tali. Mereka memasang-masangkannya dengan wanita lain yang menurut mereka akan serasi dengannya karena mereka berhasil memainkan peran sebagai sepasang kekasih dalam sebuah tontonan. Bayangkan dilema yang dirasakannya ketika ia menjadi aktor untuk sebuah kisah yang ditulis perempuan itu, teman masa sekolahnya, salah satu orang yang paling mengenalnya sejak ia merintis mimpi. Lelaki itu pun menjadi peran utama, berpasangan dengan sang aktris yang berperan sebagai tokoh pendampingnya dalam kisah tersebut.

***

Perempuan itu belum pernah benar-benar yakin akan kemampuannya untuk mencapai cita-citanya sebagai penulis naskah film sampai ia mengenal lelaki itu. Takdir sepertinya mempertemukan mereka tidak hanya sebagai sahabat, tapi sebagai orang yang akan saling membantu mewujudkan impian masing-masing. Mereka bertemu karena saling mendengar tentang satu sama lain, lalu mereka berjanji akan bekerjasama untuk sebuah karya besar.

“Di karya besar perdana yang kamu tulis, aku yang akan menjadi pemeran utamanya. Itu bakalan hebat banget, kan?” ujar si lelaki. Matanya memancarkan keyakinan dan semangat yang seakan menular pada perempuan itu ketika ia membalasnya dengan senyuman, lalu berkata, “Aku nggak bisa memikirkan orang lain yang lebih pantas memerankan tokoh utamaku ini selain kamu.”

Saat itu dunia serasa memberikan ruang tak terbatas untuk mimpi mereka, kedua remaja yang merupakan pendiri klub film di sekolah. Kini dunia telah menjadi ruang yang memiliki sudut-sudut tertentu seiring hal-hal yang telah mereka bangun demi impian, yang mungkin dimulai saat keduanya berpisah jalan; ketika yang perempuan bersekolah di luar negeri, dan seterusnya dan seterusnya. Tahun-tahun yang berlalu kemudian tidak membuat takdir melupakan impian dan janji mereka, karena kini dunia sedang menunggu sebuah karya besar yang lahir dari talenta mereka masing-masing dalam satu projek yang sama.

***

Pertemuan mereka dalam projek ini dikelilingi suasana profesional, ketika ada pertimbangan-pertimbangan yang harus diambil mengingat mata pers yang selalu mengintai, lalu juga ada tuntutan komersial yang tetap dikejar demi investasi yang telah diberikan untuk projek mereka. Masa promosi telah berjalan bahkan sebelum karya tersebut disuguhkan pada dunia, dan tuntutan kehumasan tidak terlalu menyarankan kedekatan antara aktor utama dan penulis skenario; tidak seperti kedekatan antara kedua peran utama yang lebih disukai.

Hari itu pengambilan adegan latar malam hari, meski sejak pagi buta para pekerja di depan maupun di balik layar telah beraksi. Adegan tersebut dilakukan di latar sebuah penthouse besar dengan penggambaran suasana pesta yang berpusat pada pertunangan kedua tokoh utama. Sementara menunggu sutradara menyerukan aba-aba untuk mulai berada dalam peranan masing-masing, lelaki itu menunggu di sebuah sofa dengan sang aktris pendampingnya di sebelahnya. Hari pengambilan gambar yang panjang membuat sang lelaki ingin menghemat tenaga dan pikirannya agar bisa tetap fokus pada pekerjaan besarnya. Ia tidak lupa pada janji dan mimpinya, pada kenangannya akan perempuan yang bermimpi bersamanya. Kenyataan bahwa perempuan itu juga berhati-hati untuk menjaga profesionalisme dan anjuran kehumasan demi projek mereka hingga tahap sengaja menjaga jarak juga dengannya membuat lelaki itu sebenarnya agak terganggu. Perempuan itu hemat menjawab pesan-pesannya, dan selalu menghindari ajakannya untuk menghabiskan waktu berdua dengan halus. Segenap profesionalisme lelaki itu dikerahkan agar ia dapat mencegah diri menghindari sang aktris yang menurutnya menikmati semua promosi dan publikasi. Lelaki itu sebenarnya tidak ingin membuat sang aktris salah sangka pada kedekatan mereka yang difabrikasi demi promosi, namun tidak banyak yang bisa ia lakukan ketika ia sendiri terikat pada profesionalismenya.

“Hei, habis ini mau coba refreshing ke club baru itu nggak? Bakalan banyak orang di sana, bagus untuk promosi dan networking juga kan…” Sang aktris yang baru mengalihkan perhatiannya dari ponsel di tangannya menatap sang lelaki penuh harap, mengerjapkan bulu matanya yang telah diextention. Lelaki itu juga mau tak mau jadi terpaksa mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya sendiri yang menampilkan jendela percakapannya dengan si perempuan yang lebih banyak berisi pesan yang dikirim olehnya daripada yang dibalas. Bahkan pesannya yang terbaru, berisi ajakan yang intinya sama dengan ajakan sang aktris, masih nampak belum dibaca oleh si perempuan.

“Entah ya, aku sedang nggak mood. Capek banget soalnya hari ini.” ujar lelaki itu sambil tersenyum sopan.

“Hmm… iya juga sih…” balas sang aktris, kemudian dengan santai menyenderkan kepalanya yang berambut panjang ikal hasil karya penata rias ke bahu lelaki itu. Sang aktris kemudian tersenyum lagi menatap lelaki itu, untuk kemudian melanjutkan perkataannya saat ia seperti mendapatkan sebuah ide, “Aku bisa masakin kamu sesuatu di rumah kamu, lho. Mau aku pijitin juga nggak?”

Tahun-tahun panjang karirnya sebagai seorang aktor membuat perkataan dan ajakan semacam yang ditawarkan sang aktris adalah sesuatu yang biasa didengar lelaki itu. Profesionalismenya yang telah terasah lama juga didikan orangtuanya lah yang membuat lelaki itu selalu bisa membalasnya (lagi-lagi) dengan senyuman sopan. 

“Jangan merepotkan dirimu sendiri. Aku yakin kau juga butuh istirahat, pergilah ke spa sekali-kali, supaya kau makin cantik.” kata lelaki itu dalam upayanya mengalihkan kendali pembicaraan. Seperti biasa, pengalaman dan pesonanya berhasil juga pada sang aktris, yang hanya membalasnya dengan tatapan geli dan senyuman yang dikulum, masih menyenderkan kepalanya di bahu sang lelaki.

“Ah kamu, ih…” ujar sang aktris, dan lelaki itu hanya tertawa singkat, sebenarnya dalam hati menertawakan hal yang diucapkannya sendiri. Saat itulah pandangannya tidak sengaja menangkap sosok si perempuan yang berada di pintu penthouse. Perempuan itu memang selalu sulit ia abaikan, bukan karena caranya menghias diri (kalau soal itu, yang dilakukan sang aktris sudah di atas standar wanita manapun, dan hal itu sudah menjadi hal lain yang bagi lelaki itu biasa saja). Ada sesuatu yang dipancarkan perempuan itu, yang terlihat dari bagaimana caranya membawa diri – tanpa banyak usaha telah membuat perempuan itu unik dibanding perempuan lain seperti sang aktris. Pembawaannya selalu nampak tenang, seakan tidak ada hal dari luar yang bisa benar-benar mengganggu pikirannya. Malam itu, si perempuan datang dengan paduan pakaian yang seunik pribadinya, memasangkan celana panjang merah dan atasan bernuansa biru – paduan yang mungkin terasa aneh di pikiran orang lain, namun nampaknya tidak bagi perempuan itu, dan juga nampak pantas dikenakannya.

Kembali pada pandangan mereka yang bertemu. Lelaki itu baru akan menyapa si perempuan dan mengajaknya bergabung, namun perempuan itu hanya tersenyum ke arahnya. Langkah kaki perempuan itu kemudian mengarah ke arah sang sutradara, yang nampaknya juga sama terkejutnya dengan si lelaki yang tidak menyangka akan kedatangan sang penulis naskah di kesempatan pengambilan adegan kali itu. Perempuan itu terlalu cepat mengayunkan langkah dan poros pandangannya dari arah si lelaki, sehingga si lelaki tidak bisa benar-benar yakin mengenai kandungan makna yang mungkin ada dalam sorot matanya. Lelaki itu merasa melihat ada tatapan rindu di matanya, namun ia tak yakin, mengingat ia mengetahui kemungkinan bahwa bisa saja itu adalah sesuatu yang hanya dibayangkannya berdasarkan perasaannya sendiri pada si perempuan. Waktu kemudian bergerak cepat, ketika sang sutradara memutuskan bahwa latar adegan telah siap, dan mereka diminta bersiap dalam peran masing-masing. Musik telah diputar dan panggung mereka telah siap.

***

Sandiwara demi sandiwara, peran demi peran.

Kau dan aku, lalu aku dan dia.

Manakah sandiwara yang sesungguhnya?


Komentar pribadi penulis setelah 7 tahun cerpen ini

Google docs tempat draf cerpen ini saya arsip mencatat versi terakhirnya dibuat pada 2018, jadi saya anggap tujuh (7) tahun sudah usia tulisan ini hehe. Kayaknya dulu saya tulis berdasarkan prompt di sebuah kontes menulis di suatu akun Line perkumpulan sesuatu yang saya lupa dan memang yang menjadi prompt itu berupa gambar yang nampak seperti suasana pesta, makanya ada adegan si aktor ini sedang (atau akan) bersandiwara di latar pesta.

Sebenarnya harusnya bisa lebih dielaborasi atau dikembangkan lagi sih mengenai cerita si aktor dan si penulis skenario. Lagi-lagi cerita romansa dengan banyak tipikal-tipikal yang bisa ditemui di dalamnya, termasuk gambaran bagaimana tokoh perempuannya (si penulis skenario) mungkin bisa terasa sebagai stereotip sosok yang ‘iyaa deh kamu tidak seperti perempuan kebanyakan’, hahaha.

Saya nggak terlalu ingat dari mana deskripsi soal ‘menjadi aktor adalah pekerjaan yang sepi’ itu saya dengar dari mana, tapi saya masih suka dengan gagasan itu dan menganggapnya menarik.

Kayaknya saya perlu sih untuk mengunjungi kedua karakter ini kembali, karena rasanya masih kebanyakan berupa kilasan/ringkasan gitu. Terlepas dari banyaknya klise yang sudah tersaji dan paling juga akan terjadi, kayaknya saya juga akan menikmati menuliskannya.

Terima kasih untuk yang sudah membaca, dan bagi yang berkenan meninggalkan komentar, saya tambahkan doa juga agar apapun pekerjaanmu (meskipun aktor juga) tidaklah terasa sepi.

Tinggalkan komentar