Meskipun Ini Hari Selasa, ternyata ada banyak yang rasanya perlu dicatat di hari Jum’at tanggal sebelas kemarin. Emosi, peristiwa, pikiran, dan kejadian yang hari itu nampaknya terasa lebih padat dibanding hari-hari kerja lainnya dan biasanya.
Disclaimer: Tulisan ini hanya pendapat pribadi, kalau bukan curahan hati dari penulis; dan akan menyebutkan beberapa hal yang mungkin terasa pribadi/sensitif untuk diungkapkan di posting publik. Jika kamu termasuk kurang nyaman dengan paparan informasi pribadi atau mungkin memiliki pendapat/sudut pandang tersendiri yang bisa jadi berbeda dengan yang dibagikan dalam tulisan ini, sebaiknya baca dengan hati-hati dan mohon kebijaksanaannya. Terima kasih.
Tanggal sebelas lalu memang belum ada satu bulan (Bernadya, you got me as I got your song) dari keputusan menyudahi sebuah hubungan yang sempat saya percayai untuk memiliki masa depan meski baru berjalan tiga bulan. Tepatnya sepuluh hari sebelum tanggal yang sama di bulan sebelumnya ketika saya diberitahu bahwa yang bersangkutan sudah menyerah, keluarganya kurang sreg, kami tidak nyambung mengobrol, dan berbagai alasan lainnya untuk putus. Singkatnya, sepuluh hari sebelum satu bulan saya diputuscinta.
Saya memang sudah lebih dewasa – kalau tidak dibilang lebih baik menyikapinya. Segala hal tentang ada jalan maupun rencanaNya yang lebih baik, serta bagaimana sesuatu memang harus disudahi bukan karena masih ada yang kurang sempurna, tapi justru karena semua pelajarannya sudah selesai diberikan.
Tapi hari Jum’at itu saya tersedu di sepanjang perjalanan saya ke kantor (naik bus) bukan karena teringat mantan, tapi karena dada ayam yang saya beli dan simpan di freezer ternyata sudah dimasak Ibu. Rasanya ada pemicu yang tiba-tiba terpantik dan meluapkan emosi karena saya sudah merasa terlanjur begitu jauh mengharapkan maupun merencanakan tentang dada ayam itu.
Baru hari sebelumnya di hari Kamis sepulang kantor saya akhirnya kesampaian membeli satu bahan yang membuat saya terus menunda dari akhirnya mengolah dada ayam itu. Saya sangat terusik karena bisa-bisanya saya tidak diberi tahu atau ditanya lebih dulu jika dada ayam yang saya simpan itu hendak dimasak lebih dulu.
Tangis saya memang kelihatan sangat berlebihan jika dihadapkan dengan Ibu yang tiap hari memastikan ada cukup lauk ‘layak’ tersaji, terutama untuk Bapak agar bisa selalu ada nafsu makan berhubung Bapak belum lama selesai dikemoterapi setelah enam kali. Kejengkelan dan kekesalan saya pagi itu sepertinya berakar dari keengganan dan keberatan saya untuk mengorbankan apa yang sudah saya putuskan demi yang bisa dibilang sebagai kebaikan bersama.
Saya merasa kurang dihargai sebagai orang yang sudah membeli dada ayam itu sendiri (naik bus juga, tidak pesan antar) meski sepertinya juga sudah disimpan hampir satu bulan (padahal kata pegawai G*lael di bagian makanan beku bisa disimpan lama selama di freezer). Saya juga marah dan lelah karena seolah harus sama mulianya dengan Ibu saya yang tidak akan menunda mengusahakan untuk memasak apa yang bisa menjadi lauk panas di pagi hari.
Perihal Ibu saya yang selalu memastikan ada makanan setiap hari meskipun lama tidak menerima nafkah sudah berbeda soal lagi. Bagi saya sebagai anak perempuan, kekecewaan nyata terhadap Bapak tidak bisa semudah itu memaklumi apabila itu yang terjadi bagi Ibu.
Entah, mungkin biarpun Bapak di masa pensiun tidak dapat lagi diandalkan secara materi, belum lagi dengan hutang dan tunggakan sana-sini, Ibu tetap mengingat dan menghargai kesediaan Bapak untuk membantu dan mendampingi dengan berbagai cara lain. Misalnya sekadar untuk menggunakan tenaganya untuk masih sering mengepel dan membersihkan rumah meski rasanya juga tidak tega melihat Bapak yang sudah sepuh masih nampak semangat melakukan pekerjaan ‘kasar’.
Pengabdian dan kesabaran Ibu terhadap Bapak memang contoh yang mengagumkan sekaligus memilukan untuk saya saksikan dan renungkan, biarpun saya cuma anak perempuan dan anak tengah. Tapi lagi-lagi, tangis saya yang terlanjur meluap juga barangkali hanyalah pelampiasan, mengingat patah hati yang belum ada satu bulan terlalui serta rencana memasak bahan beku yang didahului.
Marah saya pagi itu juga karena saya pikir, kenapa sih tidak masak saja telur yang juga sudah saya beli lagi kemarin? Kenapa sih saya mau menyimpan dada ayam saja seolah egois sekali, padahal tiap saya berbelanja juga saya ingat sendiri (tidak diingatkan ataupun diminta) untuk juga membeli yang sedang habis di rumah (kemarin saya juga beli sabun mesin cuci dan gula pasir). Saya juga tiap bulan sudah hampir setahun ini membayar tagihan listrik yang bisa dibilang berkisar jutaan bukan cuma ratusan ribu.
Saya memang tidak bisa semulia Ibu, tapi pikir saya karena toh posisi saya dalam hal ini hanyalah sebagai anak. Bagaimanapun saya mengusahakan bisa tetap ingat membantu keluarga, ada bagian yang masih kekanakan di dalam diri saya yang tidak terima bahwa saya seolah harus menunjukkan pengorbanan dan kemuliaan yang sama dengan yang ditunjukkan orangtua.
Namun tidak ada pembenaran yang sedang ditekankan maupun pembelaan diri yang dimaksudkan dari semua hal tadi. Uraian panjang-lebar tadi bisa dibilang justru merupakan pembuktian ungkapan bahwa kasih anak memang hanya sepenggal galah.
Entah kapan dan bagaimana jika sudah giliran saya menjadi orangtua, setidaknya dengan membuat catatan ini mungkin akan ada kemungkinan saya bisa kelak membacanya lagi dan bisa memahami anak saya dengan lebih baik. Mungkin memang pengorbanan dan kemuliaan orangtua sudah sendirinya akan niscaya.
Tidak ada kemuliaan orangtua yang perlu dibandingkan dengan pengertian dari sang anak, dan tidak ada pengorbanan orangtua yang perlu diekspektasikan untuk dibalas. Anak yang sejatinya titipan memang berhak atas semua pengorbanan ketika sudah dilahirkan.
Permasalahannya adalah apakah nilai-nilai yang benar dan baik bisa tertanam pada anak? Sebagai anak, dari tiga puluh tahun kehidupan saya dengan orangtua, setidaknya saya tahu bahwa ada banyak sekali nilai baik yang diajarkan oleh orangtua saya, dan saya tidak bisa merasa lebih beruntung.
Meski demikian, saya tetap bisa menangis dan kecewa sebagai anak – dan itu tidak menjadikan orangtua saya “buruk”, hanya tidak sempurna. Saya juga bukan anak yang sempurna.
Pagi itu juga saya tahu bahwa dengan tidak sarapan di rumah maupun salim pamit pada Ibu, saya memang saya sudah mengecewakan lagi. Meski ada dalih lebih praktis bahwa saya memang berusaha agar tidak terlambat sampai ke kantor karena saya mengejar bus lewat. (Hei, sepertinya satu-satunya yang lewat dan bisa dikejar memang cuma bus ya, saya rasa sebaiknya jangan coba-coba ke yang lainnya).
Jum’at pagi itu juga pikir saya sambil berjalan kaki dari perjalanan ke dan dari halte/perhentian bus akan mempermudah saya menenangkan diri. Saya juga lebih lanjut menyenangkan hati sendiri ketika saya kemudian memesan minuman dan roti F*re untuk diambil sebelum sampai ke kantor. Dan memang, akhirnya sesampai kantor saya sudah jauh lebih tenang dan bisa mengarahkan pikiran saya agar bisa difokuskan untuk (berusaha) bekerja.
Di kantor juga ada apel pagi dan seperti biasa, saya sudah bersiap untuk bertugas menjadi komandan kompi bidang saya (karena teman-teman di bidang banyak yang tidak mau, dan saya juga tidak menghakimi). Di luar sangkaan siapapun, ternyata pagi itu kantor saya keburu menerima berita duka atas kepergian seorang rekan/senior kami bahkan sebelum apel pagi hari Jum’at itu bisa dimulai.
Pak Roby sudah dipanggil untuk kembali pada Allah, hari Jum’at itu juga sama-sama sepuluh hari sebelum ulang tahun beliau yang ke-empat puluh. Tidak heran bahwa banyak sekali yang ingin tidak perlu mempercayainya. Saya sendiri pun kalau bisa mengambil opsi untuk tidak percaya akan mengambilnya.
Ruang kerja beliau dekat dengan area kerja saya meskipun beliau di bidang yang berbeda. Saya bahkan masih ingat bagaimana baru kemarin Kamis sore beliau masih berusaha menyapa saya juga, sesuai dengan reputasi beliau yang selalu terlihat ramah dan bersemangat.
Saya bertugas membuat poster dan ucapan duka untuk pegawai meninggal, dan tugas itu saya lakukan biarpun rasanya masih antara nyata dan tidak nyata, percaya dan tidak percaya. Ada sesak dan sedih yang saya rasakan untuk beliau, sesal tersendiri karena saya sering malu menanggapi keramahan beliau.
Tidak ada lagi kesempatan bagi saya untuk bisa menunjukkan sikap yang lebih baik terhadap keramahan beliau, meski saya ingat beberapa kali beliau sempat memuji saya, bahkan sepertinya beliau juga sempat menggoda saya untuk bisa diajak menjadi anggota timnya meski saya keberatan karena tidak ingin kebanyakan pekerjaan. Begitulah penyesalan, selalu belakangan dan penuh ketidakberdayaan.
Berulang kali saya menjawab chat dari rekan di dinas/perangkat daerah lain yang menanggapi berita duka kepergian beliau. Yang saya sampaikan rata-rata adalah bahwa beliau meninggal mendadak, ketika sedang berada di Jember, tempat tinggal istri dan anaknya. Beliau juga memang sering bolak-balik perjalanan Semarang – Jember. Banyak dari yang bertanya akhirnya menyimpulkan bahwa mungkin karena kecapekan.
Doa baik dan kesaksian akan kebaikan beliau yang dikenal ramah dan aktif membantu melayani pemberhentian pegawai (seperti pensiun) mengalir deras. Begitu banyak yang tidak menyangka bahwa sosok beliau yang masih nampak energik dan semangat ternyata sudah dicukupkan hidupnya di dunia. Saya setuju, jika beliau memang orang yang baik, dan saya mendoakan juga agar keluarga beliau tabah – terlebih karena beliau memiliki anak-anak yang masih kecil, dan ada yang berkebutuhan khusus.
Saya merenungkan bagaimana saya tidak dapat membayangkan betapa keras beliau berjuang dalam kesehariannya, bahkan dengan keterbatasan pengetahuan saya tentang seluk-beluk keseharian beliau. Semangatnya untuk menunjukkan dan memberikan yang terbaik pada keluarganya bahkan mengantarkan dan menjelaskan sebab kepergian beliau. Rupanya beliau ditemukan sudah tiada di dalam mobilnya setelah ditepikan tidak jauh dari stasiun Jember setelah mengantarkan mertuanya di hari Jum’at pagi itu, meski bisa dibilang baru pagi itu juga beliau sampai setelah perjalanan panjang dari Semarang.
Membayangkan perjuangan beliau memang menjadi bukti bahwa ketulusan pengorbanan atas dasar cinta dan kasih sayang itu nyata, begitu pula dengan kebanggaan saat melakukannya. Saya kira beliau selalu berbangga dengan perjuangan yang dilakukannya untuk keluarga di Jember sehingga beliau tidak pernah kelihatan mengeluh maupun malas bekerja di kantor.
Dari semua hal yang mungkin ditinggalkan beliau, mungkin itulah yang akan saya ambil sebagai pelajaran dan pengingat. Apalagi dalam konteks saya yang habis patah hati sampai drama sendiri dengan orangtua segala baru tadi paginya.
Bagi saya sendiri, mungkin tidak apa menganggap sekecil-kecilnya pengorbanan saya sebagai anak adalah sebuah kebanggaan meski mungkin orangtua maupun keluarga mengharapkan pengorbanan yang berbeda. Yang jelas selama tidak mengorbankan kewarasan, saya akan tetap melanjutkan melakukan yang saya bisa, dan tidak mengecilkan usaha yang sudah saya lakukan.
Saya ingat belum lama ini pernah berkata pada diri saya sendiri, bahwa rasanya sekarang saya perlu berhenti berusaha ‘membahagiakan orangtua’ jika malah menjadi beban dan membuat saya jadi kehilangan kedamaian dan kebahagiaan saya sendiri. Toh saya juga hidup dengan sewajar-wajarnya, membayar cicilan saya sendiri, tidak berhubungan apalagi sampai hamil di luar nikah, dan secara umum sudah menunjukkan bahwa saya tidak merepotkan amat sebagai anak kecuali masih ikut makan, tidur, mandi, dan lain-lain di rumah orangtua (terlepas ternyata SHM belum ada dan PBB kesulitan bayar karena mahal sekali).
Bagi harapan saya dalam cinta, saya juga akan percaya bahwa yang terbaik bagi saya tidak akan menganggap pengorbanan yang dilakukan untuk saya sebagai beban, melainkan sebagai sebuah kebanggaan. Toh sebagai perempuan, saya tidak menuntut pengorbanan yang terlalu ekstrem dari laki-laki, tapi jelas saya punya gambaran tentang bagaimana saya ingin didampingi dan mendampingi – dan hal itu layak diperjuangkan.
Jum’at yang saya catat ini memang bisa dibilang sangat padat dan berat, tapi sebenarnya mengandung pesan berharga untuk diingat. Jum’at siang itu akhirnya saya mengirim chat di grup keluarga menanggapi foto kiriman dari ibu yang menunjukkan lauk di meja, termasuk masakan fillet dada ayam – bahwa saya nanti akan makan lauknya, dan tadi pagi saya berangkat supaya tidak terlambat.
Jum’at sepulang kantor hari itu juga saya masih sempat berangkat work out di Curves, karena saya harus ingat untuk berusaha kuat dan menyehatkan diri saya sendiri. Tidak bisa menunggu diingatkan orang lain, dan saya berdoa agar pendamping saya (dari berbagai kriteria yang harusnya bisa sempat saya tuliskan untuk catatan maupun pengingat) juga akan mengingat hal itu untuk kebaikan dirinya sendiri juga.
Saya selesai menulis ini hari Minggu tanggal tiga belas, dengan memertimbangkan edit dan rapi-rapi di hari Senin dan sebagainya – tapi saya akan jadwalkan tulisan ini sehingga bisa dibaca hari Selasa. Sekalian jadi ide juga agar catatan pribadi seperti ini bisa ditulis setiap hari Selasa juga untuk ke depannya.
Baiklah, semoga yang membaca sampai sini juga bisa mendapatkan manfaat sebagaimana saya mendapat manfaat dari menuliskannya. Ini Risa, terima kasih sudah membaca!
Tinggalkan komentar