Saya dari masa lalu dan saya dari masa depan duduk bersama saya sekarang. Sebuah kedai kopi yang lengang, sejuk, dan memutar jazz atau gubahan orkestra yang lembut membuat kami betah berlama-lama. Bahkan dari sekilas saya sekarang melirik, jelas saya tahu bahwa saya dari masa lalu kelihatan terkesan memandangi bagaimana dirinya tampak di masa depan.
“Ternyata sekarang kalau kita disuruh nulis apa hobi kita, yang kita tulis bukan ‘membaca’ lagi, tapi olahraga,” saya sekarang menerangkan padanya pelan, dengan rasa penasaran dan antisipasi terhadap respon yang akan dia berikan. Saya dari masa lalu kemudian tidak lagi malu-malu menyembunyikan ekspresi terkejut, terkesan, dan heran dalam senyum lebar dan tatap berseri-serinya. “Lah boleh juga kita?!” celetuknya, “selama kita sekolah rasanya yang ada tuh belajar menerima gimana kita tuh nggak bisa olahraga soalnya.”
Kami mengangguk-angguk bersama, bahkan saya dari masa depan juga tidak bisa kebal dari betapa menularnya tawa yang menyebar di meja kami. “Olahraga itu nggak harus berarti bisa main kasti, badminton, basket, atau voli, atau segala bisa olahraga permainan yang lainnya. Paling butuhnya bisa disiplin sih untuk nyediain waktunya. Modal gelar matras dan ngikutin gerakan dari video Youtube, yang penting gak angin-anginan, ternyata berguna banget biar kita tetap waras.” Penjelasan saya sekarang pada saya dari masa lalu terucap dengan lebih tenang ketika tawa sudah mereda, “sepenting itu sih menjaga kewarasan tuh.” ujar saya sambil menghela napas panjang.
Saya dari masa depan mengangguk menyetujui, ia tersenyum dan memegang bahu saya, “Makasih banyak udah selalu berusaha tetep waras.” katanya, “bangga banget sama kamu.”
Secepat tawa tadi sempat menular, secepat itu pula peluk kemudian terulur. Singkat namun hangat. Baik saya sekarang dan saya masa depan tampak berkaca-kaca karena alasan yang sama-sama kami mengerti sementara saya dari masa lalu nampak terharu karena ketulusan dan kehangatan yang dirasakannya meski saya dari masa depan dan saya sekarang juga lantas sama-sama paham bahwa memang belum waktunya untuk ia tahu.
“Tapi kita jadinya udah pernah pacaran, putus, lalu patah hati. Nggak cuma sama satu cowok lagi.”
Saya sekarang namun tidak berpikir panjang ketika momen kami terasa begitu dekat tadi membuat seluruh rasa yang terasa penuh di dalam kemudian jadi tertumpah, menolak hanya sekadar menjadi semacam gumpalan tanpa nama di rongga dada.
“…maaf ya, meskipun udah dua puluh tahun lebih kita ‘harusnya’ udah berhasil jaga diri nggak pacaran dan lain sebagainya.” Lumayan membantu ketika pandangan saya sekarang menatap saya dari masa lalu sedikit kabur oleh air mata, karena kali ini dia pun tidak bisa menyembunyikan tidak hanya keterkejutan, tapi juga kekecewaan.
“Eh… Sedih juga, ya tapi gimana lagi…” celetuk saya dari masa lalu, “apalagi kita juga hidup nggak kayak di film ataupun novel dan drama, kan.” Cara saya dari masa lalu menatap saya sekarang memang tidak menyembunyikan kekecewaan, tapi di saat yang sama ia nampaknya juga sekaligus mafhum dan lunak hati melihat saya sekarang yang berurai air mata. “…sebenarnya toh juga nggak gimana-gimana dengan nggak punya cowok tuh, apalagi kamu juga udah secakep ini. Nggak nyangka sih kita jadi bisa pakai kawat gigi segala.”
Mau tak mau saya sekarang terkekeh geli mendengar komentar saya dari masa lalu. Saya tahu sebagian dirinya bermaksud memberikan penghiburan meski agaknya tetap tidak sebesar ketertegunannya melihat wujud dirinya di masa depan, “…yah, memang kita menjadi maupun mengalami yang sebenarnya tidak terlalu kita duga-duga banget sebelumnya. Dan jujur nggak murah juga jadi seperti kita sekarang, termasuk kawat gigi ini juga – tapi toh kita bayar nggak minta uang ke orang lain.”
Saya dari masa lalu lantas mengangguk-angguk, ikut terkekeh dan mengangkat sebelah alisnya, “Nah itu nggak jelek juga sih…” ia menanggapi dengan senyum yang kemudian lebih santai, meski tatapannya masih memerhatikan saya sekarang yang mungkin dalam pandangannya seperti sedang melihat bendungan pecah. “Kayaknya masih susah move-on nya ya. Nggak mau nanyain juga sih orangnya atau kejadiannya gimana.” katanya sambil kemudian mencuri pandang pada saya dari masa depan yang sedari tadi hanya merangkul dan memegangi saya sekarang.
“…nggak berani nanya juga terus akhirnya gimana.” celetukan saya dari masa lalu kemudian berangsur lebih lirih, ketika akhirnya ia beringsut mendekati saya sekarang untuk kembali saling mengulurkan peluk.
Tentu saja saya sekarang resmi tidak bisa mengontrol deras tangis dibuatnya. Selembar tisu saya tarik dari yang tersedia di meja, dan sambil menyeka ingus saya sekarang berkata parau, “Maaf banget karena masih secengeng ini. Padahal orangnya juga kalau dipikir dan diinget tuh nggak seberapa ganteng, nggak segimana-gimana itu pokoknya… dan kalau pun dipaksa lanjut juga kayak nggak ada gunanya juga gitu lho, kayaknya juga sulit ngebayangin gimana bisa ‘bahagia’ misal dibayangin sampai nikah sama orangnya. Cuma… cuma… ya itu, maaf banget masih terasa mulu pengin – eh udah – nangisnya, sama inget gimana dulu ya nggak dinyana kok ya memang sayang; meski kita juga yang dideketin duluan, kita udah kasih kesempatan, ya nggak tahunya kita yang akhirnya ditinggalin…”
Sesak yang saya rasakan itu akhirnya berangsur lebih lega seiring racauan terbata-bata saya di tengah tangis dan keterseduan saya, di tengah pegangan dan keberadaan saya dari masa lalu maupun saya dari masa depan. Keduanya tidak mengendurkan pegangan mereka maupun menjauh dari saya, dan ada kehangatan dan ketenangan yang sebagai dampaknya menjadi ikut tertular untuk saya sekarang rasakan. Tapi saya sekarang masih betah menangis, membiarkan nafas tercekat dan tubuh melunglai seolah tangisan itu memang wujud dari sesuatu yang berat untuk saya sekarang paksa tahan sendirian.
“Lepasin aja biar lega, nggak apa-apa…” Perkataan saya dari masa depan terdengar tenang dan penuh pengertian, menyadari bagaimana dari saya bertiga memang ia-lah yang paling bisa diandalkan untuk berkata-kata terutama ketika saya dari masa lalu juga sudah tidak tahu harus berkata apa. “Akhirnya bukan soal siapa, kenapa, dan bagaimana orang yang ninggalin kita. Mau gimana pun juga kalau udah nggak sama-sama ya kita udah nggak punya cara lagi untuk tahu gimana semua yang kita rasa masih harusnya dibagi sama dia bahkan bisa ‘sampai’… dan itu wajar, manusiawi, karena kita memang beneran pernah se-sungguh-sungguh itu…”
Isakan saya sekarang berangsur lebih keras menyimaknya, semata-mata karena apa yang saya dari masa depan katakan memang benar. “Sebenarnya memang menyedihkan kalau seolah-olah soal diri kita itu cuma tentang gimana kita ini patah hati dan ditinggalin, padahal kita sebenarnya lebih dari itu. Ya itu tadi… hobi yang sekarang boleh juga, kawat gigi yang akhirnya dipakai, …hu…hu…”
Melihat kesempatan bagaimana saya sekarang mengungkit hal yang ia tahu memang dari apa yang dikatakannya, saya dari masa lalu mengangguk-angguk, tersenyum penuh harap biarpun sepasang matanya ikut berkaca-kaca, “Bener banget, nggak ada kepikiran sama sekali sih tadi soal apa kita ini lagi patah hati atau apa waktu lihat gimana keren dan boleh juga nya kita sekarang gitu, ternyata bisa hobi olahraga, bisa pakai kawat gigi, bisa nggak pakai kacamata… itu juga baru hal-hal yang kelihatan mata, baru soal penampilan.”
Saya dari masa depan ikut mengangguk dan tersenyum, dengan lebih perlahan seperti seorang bijak yang senang melihat ‘muridnya’ mendapatkan pemahamannya tanpa diceramahi. Meski demikian, baik saya sekarang dan saya dari masa lalu tahu bahwa pandangan matanya sama-sama berkaca-kaca. Apa boleh buat kalau sampai kapanpun memang saya cenderung mudah menangis.
“Selalu ingat sama kekuatan dan kebaikan kita, yang bertahan dan malah semakin bertambah setelah semua yang kita alami, termasuk setelah apapun yang pernah menyakiti. Yang penting, kita berusaha terus maju ya, nggak peduli sepelan apa, kita nggak berhenti…” kata-kata saya dari masa depan seperti memberikan penyimpulan dan akhirnya mengantarkan isakan saya sekarang untuk mereda. Saya sekarang menatap saya dari masa lalu, juga saya dari masa depan.
“Kalau soal itu… Enggak kok, kita nggak berhenti, kita tetap berharap, kita tetap yakin, kita tetap bermimpi.” kata saya sekarang, meraih serta berpegang tangan dengan saya dari masa depan dan saya dari masa lalu, “sayang kalian, kita yang baik-baik ya, jaga diri kita. Makin dewasa lama-lama ya siapa lagi yang bisa jagain kita, ya nggak?” kekehan geli akhirnya menggantikan tangis saya sekarang. Selanjutnya baik saya dari masa lalu maupun saya sekarang nampaknya berbagi pemahaman yang sama dengan saling berpandangan, tidak berani menatap pada saya dari masa depan karena tidak ingin terpergok sedang terpancing untuk merasa penasaran.
Namun tentu saja hal itu tidak luput dari saya dari masa depan, yang kemudian berpangku dagu dan tersenyum lebar penuh arti, “Apa serunya kalau yang belum waktunya untuk dialami malah dibocorin dari sekarang, ya nggak?” katanya tenang, “…yang penting untuk kusampaikan cuma, terima kasih banyak untuk kita, ya…”
“…terima kasih untuk melalui semua yang sudah berlalu maupun harus dialami, sehingga kita bisa tetap menjadi kita, yang lebih baik, lebih kuat… dan maka dari itu selalu menemukan bahagia.”
Bersama pelukan yang saya bagi entah untuk ke-berapa kalinya, akhirnya saya bisa duduk dengan perasaan damai.
Tinggalkan komentar